Tak Dirayakan

Aku mengubur tulang-belulangku ke dalam tanah, menamainya fondasi.
Setiap bata adalah tidur yang kupinjam,
hari-hari habis menjelma dinding.

Aku mempelajari bahasa lapar,
cara tersenyum sementara tanganku gemetar,
cara mengubah “tidak cukup”
agar hampir menyerupai ada.

Aku memanjat dengan mengecilkan diri.
Mengucap “ya” ketika maksudku
tolong, jangan.
Membiarkan mereka memuji
sementara itu mengosongkanku.

Di atas, hanya ada akhir.
Sesuatu yang selesai
dan lupa siapa yang membawanya ke sana.
Tangan-tangan berpindah,
nama-nama dicabut,
tersisa keterasingan
yang bahkan bukan milikku.

Kupikir lacur artinya selesai.
Ternyata tak sekejam itu:
ia meninggalkan pelajaran,
batas yang tak boleh dilewati lagi.

Di antara puing,
sesuatu bergerak:
rapuh, bergetar, keras kepala.

Aku melangkah
belum utuh,
masih takut,
membawa harapan
yang mengenal lukaku.

Leave a comment